Karya Maharani Kau bagaikan bulan di malam hari Bersinar terang seperti berlian Paras elokmu bagaikan bidadari Selalu memetik bunga di taman Kau bersenandung hingga aku terlelap Membelai rambutku disepanjang tidurku Terbang dengan kedua sayap Menyejukkan mata hatiku Kau adalah wanita terkuat Segala musibah kau hadapi dengan kesabaran Adalah penyembuh dan obat Selalu membuatkan kami makanan Tak pernah luput dari ingatan Tiada arti aku tanpamu Semua yang kau berikan Lebih besar dari terimakasihku Kaulah Ibuku, malaikatku, bidadariku. Alai Pauh, 15 Januari 2017
Bernafas bukan dengan oksigen menyakitkan Menghirup udara yang tak diinginkan menyedihkan Sesak hingga terasa mati rasa dalam ketidakberdayaan Udara yang bertebaran partikelnya mematikan Ingin mati rasanya dalam kebisuan Air mata ialah satu-satunya cara membinasakan Degup jantung tertusuk sembilu tajam Ditelan kegetiran tak berkesudahan Letih menanggung kegelisahan atas kebodohan Hidup dalam ketidakpercayaan Tiada bisa menerima kenyataan Berupaya merubah suratan Gagal dalam kebodohan berkepanjangan Bermetamorfosis dari kepompong jadi kupu Terbang bebas hinggap didedaunan Menghisap segar harum madu bunga Menyebarkan putik cinta di angkasa Bebas tanpa rasa bersalah Tunas baru bermunculan Musim berganti Kupu musim semi berterbangan Menebarkan keindahan Luput dari genggaman
Aku ingin menjadi sang hujan yang selalu di temani sang awan hitam ditemani mimpi-mimpi indah Tak kala arungi langit nan luas Sebelum berjatuhan dan basahi seisi bumi, Butir-butir putih nan murni menandakan sebuah ketulusan Saat ia terhempas dan bercerai-berai keseluruh bumi Memecah tanah dan bebatuan Maka ia tak akan pernah bersedih, karena ia tahu Dimana tempat melanjutkan mimpinya bersama sang awan hitam Berkelana mengarungi angkasa Sebelum kembali berceceran di bumi. Palembang, 02-06-2011
Komentar
Posting Komentar